Alternatif Pengobatan Herbal luka bekas operasi Caesar dengan Ikan Kutuk atau Teripang

Alternatif Pengobatan Herbal luka bekas operasi Caesar dengan Ikan Kutuk atau Teripang

Obat Herbal Luka Operasi Caesar
Obat Herbal Untuk Luka Dalam dan Luka Luar, Pasca Operasi, Luka Caesar, Luka Bakar dll. harga 45 rb isi 80 kapsul, pemesanan 0857 2500 9509

Alternatif herbal mengobati atau menyembuhkan luka bekas operasi caesar dengan Ikan kutuk atau teripang. Operasi caesar adalah operasi yang dilakukan pada wanita hamil dalam keadaan tertentu baik itu karena faktor kesehatan atau faktor lain yang mengharuskan operasi caesar di lakukan. Masa kritis pasca persalinan caesar memang lebih lama ketimbang persalinan normal. Persiapan persalinan caesar dibandingkan persalinan normal memang khusus. Selain urusan anastesi (lokal atau total), biasanya calon ibu diminta berpuasa. Cara melahirkan caesar mungkin lebih singkat tapi luka yang di akibatkan bekas cesar akan di alami dalam waktu yang lama(karena kurang dirawat) bahkan seringkali bekas lukanya tidak hilang(membekas).  Lalu mungkinkah calon ibu yang bersalin secara operasi takkan sukses menyusui eksklusif.

Bayi yang terlahir dengan operasi cesar, cenderung lebih banyak tidur dan terlihat lesu karena terkena imbas obat anestesi operasi caesar, ketimbang bayi yang terlahir normal. Untuk membantu menstimulasi produksi ASI, Anda bisa “meminta” bantuan bayi terus menghisap ASI dengan membangunkannya. Butuh waktu beberapa hari bagi bayi agar dirinya lebih banyak bangun dan terus menghisap ASI.

Pengobatan alternatif luka caesar dengan perawatan yang bersih akan membuat luka tersebut cepat membaik. Biasanya luka caesar yang susah sembuh di karenakan beberapa hal seperti kurang darah (anemia), pemberian obat antibiotik(untuk mencegah kuman dan bakteri), atau si ibu punya penyakit lain seperti diabetes (gula) dan kurangnya rawatan pada luka di karenakan kesibukan. Pemberian obat antibiotik secara terus memerus tanpa disadarai justru akan menimbulkan kekebalan pada kuman atau bakteri.

Pengobatan Alternatif luka caesar dengan menggunakan obat herbal bukan hanya untuk proses penyembuhkan tetapi anjuran herbal yang baik di konsumsi untuk perawatan luka caesar supaya cepat sembuh dan luka pun tidak membekas. Khasiat seperti ini tidak semua herbal ada hanya dalam beberapa obat herbal saja seperti khasiat yang dimiliki oleh Teripang atau gamat emas. Karena gamat dengan kandungan antiseftiknya yang bekerja pada tubuh mampu memberikan perlindungan dari bakteri atau kumam penyebab infeksinya luka caesar serta gamat aman di konsumsi karena tidak akan menimbuklan efek samping tapi malah mampu sekaligus mengobati penyaikit lain yang ada pada tubuh seperti diabetes (gula).

Teripang atau Gamat Emas

Menurut dr Zen Djaja MD, dokter di Malang, Jawa Timur, ekstrak namako-nama teripang di Jepang-baik diberikan kepada perempuan hamil. Itu lantaran senyawa aktif dan kandungan gizi teripang amat lengkap. Prof Zaiton Hassan, peneliti Departemen Ilmu Pangan Universitas Putra Malaysia mengatakan teripang mengandung asam miristat, palmitat, almitoleat, stearat, oleat, linoleat, arakhsidat,eicosapentaenat, behenat, erusat, dan docosahexaenat.

Asam lemak itulah yang berperan terhadap pemulihan luka operasi. Kandungan asam eicosapentaenat (EPA) dan asam docosahexaenat (DHA) relatif tinggi, masing-masing 25,69% dan 3,69%. Tingginya kadar EPA menandakan kecepatan teripang memperbaiki jaringan rusak. Kandungan kolagen dalam ekstrak teripang mempercepat penyembuhan luka dalam dan luar setelah pembedahan seperti akibat operasi caesar yang dijalani Suci.

Karena teripang cepat memulihkan daya tahan tubuh, makanya para nelayan di negeri jiran mengkonsumsinya sebelum melaut. Di lautanyang berombak ganas, daya tahan tubuh mereka tetap terjaga. Kondisi serupa dialami Suci yang 3 kali menjalani operasi caesar. Lukanya mengering hanya dalam sepekan. Padahal, luka 2 operasi caesar sebelumnya yang ia jalani baru sembuh setelah 7 bulan. (Faiz Yajri).

Ikan Kutuk

Potensi Serum Albumin Ikan Kutuk

MALANG, Kompas – Guru besar pertama untuk Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya (Unibraw) akan dikukuhkan hari Sabtu (4/1) ini, dengan materi pidato pengukuhan mengenai hasil penelitian albumin pada ikan gabus. Penelitian ini sangat berpotensi untuk menggantikan serum albumin yang mencapai Rp 1,3 juta per 10 mililiter.

Demikian disampaikan Prof Dr Ir Eddy Suprayitno MS dalam jumpa pers, Jumat (3/1), di Malang. Ia hari ini akan dikukuhkan sebagai guru besar pertama untuk Fakultas Perikanan Unibraw.

Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Di dalam ilmu kedokteran, albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi atau pembedahan.

Pada masa krisis saat ini, impor serum albumin yang dimanfaatkan sering membebani biaya pasien. Untuk satu kali pembedahan, penggunaan serum ini bisa mencapai tiga kali 10 mililiter itu.

Pada penelitian Eddy, ternyata di dalam ikan gabus atau dikenal secara lokal sebagai ikan kutuk ini, terdapat albumin pula. Dan, ini tidak terdapat pada jenis ikan konsumsi lainnya, seperti ikan lele, nila, mas, gurami, dan sebagainya.

“Masyarakat sampai sekarang sangat sedikit yang mengenal manfaat ikan gabus ini. Padahal, ikan gabus ini masih mudah ditemukan,” kata Eddy.

Salah satu lokasi yang banyak ditemukan jenis ikan gabus, di antaranya di Bendungan Sengguruh atau bendungan lainnya. Masyarakat setempat yang berpencaharian mencari ikan sering memperoleh jenis ikan gabus ini. Tetapi, hasilnya masih jarang digunakan untuk menunjang kegiatan medis, terutama bertujuan untuk menggantikan serum albumin yang mahal itu.(NAW)

Simak testimoni sembuh dari bekas luka Caesar

Perasaan berseberangan itu menghinggapi benak Suci Nurhayati. Ia bahagia ketika dokter menyatakan dirinya hamil anak ke-3. Namun, ia juga waswas bila melahirkan jabangbayi dengan operasi caesar seperti pada kelahiran anak sebelumnya.

Ia ingat persis ketika melahirkan Alexander Wijaya Kusuma, anak keduanya pada 22 Desember 2001. Kepala sang jabangbayi terlilit tali pusar sehingga berakibat nyaris mati lemas. Pascaoperasi ia berharap dapat menjalani hari-hari seperti biasa sebagai karyawan di perusahaan otomotif dari Jerman. Namun, bekas operasi caesar yang membelah perutnya menyisakan nyeri berkepanjangan akibat bengkak dan lama mengering.

Perubahan itu disertai siklus menstruasinya tak teratur. Berjalan di pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan sehari-hari akan dirasakan sebagai sebuah siksaan. Sebab, kerap kali ia merasa lemas dan kakinya bengkak. Selain itu daya tahan tubuhnya lemah. Ia kerap mengalami flu, demam, dan mudah lelah. Ketika gangguan kesehatan itu belum pulih, dokter menyatakan ia hamil pada Maret 2005.

Dua operasi

Kecemasannya terbukti. Dokter menyarankan agar ia menjalani operasi caesar untuk melahirkan anak ketiganya. Alasan dokter lantaran usia Suci cukup rawan untuk melahirkan secara normal. Perempuan kelahiran Kuningan, Jawa Barat,

17 Juli 1968 itu menuruti saran dokter. Saat pemeriksaan itu dokter menyatakan cara ‘menutup’ bekas potongan kulit perut pada operasi caesar sebelumnya tidak rapi.

Dampaknya luka lama mengering dan bengkak. Selain itu lemak dan varises menutupi rahim sehingga siklus menstruasinya terganggu. Oleh karena itu dokter yang membantu persalinan menawarkan 2 operasi sekaligus: operasi caesar ke-2 dan operasi membersihkan bekas operasi sebelumnya. Ia mengkombinasikan obat asal Tiongkok untuk mempercepat kesembuhan sekaligus obat yang diresepkan dokter.

Namun, hingga 7 bulan luka bekas operasi itu tak kunjung pulih. Iakerap merasa nyeri. Daya tahan tubuh juga acap anjlok, terbukti dengan tingginya frekuensi Suci menderita demam, flu, dan gampang lelah. Dalam kondisi luka belum pulih, ia hamil anak ke-4 pada Desember 2006. Pada kehamilan ke-4 itulah ia rutin mengkonsumsi 2 sendok makan ekstrak teripang setiap hari.

Usianya 39 tahun ketika Suci menjalani operasi caesar yang ke-3. Ia menjalaninya dengan percaya diri. Konsumsi ekstrak teripang terus dilanjutkan setelah ia menjalani operasi. Hasilnya sungguh mengagumkan. Hanya sepekan pascaoperasi, luka bekas operasi mengering dan hampir tak berbekas. Ia juga merasa lebih fit dan daya tahan tubuhnya meningkat sehingga tetap bugar meski pekerjaan bertumpuk dan mengurusi keempat anaknya yang membutuhkan tenaga ekstra.

Testimoni Ikan Kutuk

SUATU hari Eddy Suprayitno berburu ikan gabus. Hasil tangkapannya langsung dikukus. Air yang menetes dari ikan bernama latin Ophiocephalus striatus itu kemudian diteliti di laboratorium. Eureka! Dosen perikanan, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, itu menemukan kadar albumin cukup tinggi dalam kandungan ekstrak sang gabus.

Menurut teori, kandungan albumin yang tinggi bisa mempercepat kesembuhan luka operasi dan luka bakar. Eddy lalu mengumpulkan 12 ekor tikus putih untuk menguji teori tersebut. Setelah berhasil, pria kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, 43 tahun lalu itu mengirimkan resepnya ke Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang. Ekstrak dari 2 kilogram ikan gabus per hari diberikan pada sejumlah pasien yang memiliki kadar albumin rendah (1,8 g/dl).

Hasilnya, setelah delapan hari, kadar albumin di darah pasien menjadi normal, yakni 3,5-5,5 g/dl, dan luka operasi sembuh tanpa efek samping. Albumin merupakan protein yang paling banyak terkandung dalam plasma, sekitar 60% dari total plasma, atau 3,5 sampai 5,5 g/dl. Protein, yang banyak dijumpai pada telur, darah, dan susu ini memiliki fungsi biologis pengangkut asam lemak dalam darah.

Albumin juga berperan mengikat obat-obatan yang tidak mudah larut, seperti aspirin, antikoagulan koumarin, dan obat tidur. Selain mengobati luka bakar dan luka pascaoperasi, albumin bisa digunakan untuk menghindari timbulnya sembap paru-paru dan ginjal, serta carrier faktor pembekuan darah.

Sejak 1999, Eddy menggeluti penelitian itu. Hasilnya, Sabtu dua pekan lalu, suami Titik Dwi Sulistyai itu dikukuhkan sebagai guru besar (termuda) ilmu biokimia di Fakultas Perikanan, Universitas Brawijaya. “Saya ingin meningkatkan status ikan gabus dan membantu masyarakat kecil,” katanya.

Eddy mengaku terinspirasi orang-orang Cina yang mengobati luka bakar dengan memakan ikan gabus. Selama ini, untuk mengobati luka bakar dan pascaoperasi digunakan serum human albumin yang diproduksi dari darah manusia. Untuk mengobati luka pasca operasi dibutuhkan tiga ampul serum albumin, Rp 1,3 juta per ampulnya. “Kasihan orang yang tidak mampu,” ujar Eddy, yang memperoleh gelar doktor-nya di Universitas Airlangga, Surabaya.

Dengan meminum ekstrak ikan gabus, pasien hanya membutuhkan 24 kilogram ikan gabus untuk menyembuhkan luka operasi atau luka bakar. Malah, menurut Eddy, luka dapat sembuh tiga hari lebih cepat ketimbang menggunakan serum albumin. Jika harga sekilo ikan gabus Rp 20.000, total biaya tak lebih dari Rp 500.000.

Namun, Hafid Bajamal, ahli bedah pada Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, berpendapat lain. Katanya, pemberian albumin hanya dilakukan bila tubuh benar-benar membutuhkan. Alasannya, proses penyembuhan luka sudah diatur tubuh. Penderita luka pascaoperasi, menurut Hafid, lebih efektif menggunakan serum albumin.

Dokter di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, itu mengakui, rumah sakit tempatnya bekerja pernah menggunakan ekstrak ikan gabus untuk menyembuhkan luka pascaoperasi, tapi hasilnya tak seperti yang diharapkan. “Pemberian albumin ikan gabus lebih cocok untuk penyembuhan jangka panjang,” katanya.

Toh, temuan Eddy sudah dilirik PT Otsuka Indonesia, produsen cairan infus yang bermarkas di Lawang, Malang. Kini, Eddy melanjutkan penelitian untuk memproduksi albumin dalam bentuk salep dan bubuk. “Saya ingin tahu, mana yang lebih efektif,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *